Minggu, 30 Maret 2014

Lip sync Keong Racun Membuat Dua Keluarga Bertetangga Ribut



 Lip Sync Keong Racun Membuat  Dua  Keluarga  Bertetangga  Ribut


RANTAUPRAPAT - Dasar kau keong racun, Baru kenal eh ngajak tidur, Ngomong nggak sopan santun, Kau anggap aku ayam kampong,  Kau rayu diriku, Kau goda diriku, Kau colek diriku…
Lip sync  keong racun  yang  negtern dinyanyikan Sinta dan Jojo  beberapa waktu lalu itu membuat dua keluarga yang saling bertetangga ribut. Akibat pertengkaran itu, berujung  di kantor polisi karena mereka saling membuat  pengaduan perasaan tidak senang di Markas Besar Polisi Resor (Mapolres) Labuhanbatu.
Lagu Keong Racun  yang dinyanyikan Sinta dan Jojo itu membuat tersinggung keluarga berinisial I, 40, saat tetangganya Dede Afriany, 21 Simatupang, warga Dusun Bangun Sari, Desa Janji Kecamatan Bilah Barat Kabupaten Labuhanbatu, memutar compact disk (CD) lantunan musik berjudul Keong Racun melalui tafe recorder dirumahnya.
Lirik “keong racun” itu dianggap sebagai hinaan dan tudingan terhadap keluarga I  memiliki “Racun” (Parrasun). Akibatnya,  Dede Afriany mahasiswi diperguruan tinggi swasta di Rantauprapat  di laporkan ke Polres Labuhanbatu dengan tuduhan penghinaan.
Menurut orang tua Dede Afriany, Nurmiati Hasibuan, 58  saat menemani anaknya di Polres Labuhanbatu mengatakan, persoalan itu berawal ketika putrinya beberapa bulan lalu sepulang kuliah membeli CD lagu Keong Racun.
Sampai dikediaman mereka, Dede Afriany dan  kakaknya, Enny Defianty, 23 yang hanya tingga berdua didalam rumahnya secara berulang-ulang memutar lirik lagu keong racun, sambil mereka berjoget ria. Tidak berapa lama kemudian, ntah kenapa, tiba-tiba keluarga I bersama sejumlah keluarganya dengan wajah marah sengaja mendatangi  Dede Afriani yang kebetulan  sedang bernyanyi di teras rumahnya.
 Tiba-tiba kata-kata makian pun dilontarkan oleh I kepada Dede Afriany. Tidak terima dirinya dimaki, Dede Afriany juga membalasanya dengan melontarkan ucapan makian terhadap tetangganya yang tidak suka mendengar nyanyian Sinta dan Jojo itu. Akahirnya, Dede Afriany dilaporkan ke Polres Labuhanbatu setelah terjadi keributan  tersebut
“Padahal, anak saya tidak ada menyinggung-nyinggung keluarga tetangga saya. Mereka juga tidak menyebut “tukang racun”, hanya anak saya menyanyikan lagu keong racun. Herannya kenapa dia tersinggung,” tutur Nurmiati.
Selanjutnya, beberapa hari kemudian,  Dede Afriany yang saat itu berusaha menidurkan  keponakannya yang masih balita  menyanyikan  lirik lagi keong racun tanpa diikuti tafe recorder didepan teras rumahnya. Tiba-tiba, keluarga I yang sedang melintas tidak jauh dari halaman rumah  Dede Afriany,  mendengarkan lagu tersebut.
Hal itu juga kembali dianggap sebagai  sindiran terhadap keluarganya sebagai orang yang memiliki Racun. Akibatnya, kembali terjadi keributan dan saling maki diantara keluarga tersebut.  Keluarga I pun mengucapkan kalimat makian terhadap Dede Afriany dan kakaknya.
Tidak terima di maki, Dede Afriany dan kakanya Enny Defianty juga melaporkan persoalan itu ke Polres Labuhanbatu. Akhirnya kedua keluarga yang saling bertetangga ini masing-masing membuat laporan pengaduan.
Kasubag Humas Polres Labuhanbatu AKP MT ARitonang ketika dikomfirmasi mengatakan,  polisi segera memanggil saksi dari dua laporan yang berbeda tersebut untuk diperiksa.
“Nanti dipanggil dulu saksi, agar tahu persoalannya. Lagian apa bisa dibuktikannya kalau itu tudingan parrasun,” kata MT Aritopnang. (sartana nasution)

Jumat, 07 Februari 2014

Taman Stadion Binaraga, Penyumbang Oksigen Diinti Kota Rantauprapat



Catatan: Sartana Nasution


Taman Stadion Binaraga, Penyumbang Oksigen Diinti Kota Rantauprapat


KETIKA terik matahari siang tepat berada diatas ubun-ubun, cobalah mampirlah ke Taman Stadion Binaraga Jalan Binaraga, Kecamatan Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Di taman ini, panasnya suhu udara dan kepenatan akan lenyap seketika karena rimbunnya pepohonan yang disertai hembusan angin segar,  sepoi-sepoi dapat dirasakan  tubuh kita.
Keadaan oksigen didaerah ini juga cukup baik, untuk membantu keperluan pernapasan bagi tubuh kita. Hal ini juga akibat  banyaknya tanaman dan pepohonan yang masih terpelihara dengan baik oleh pemerintah daerah membuat daerah itu sejuk dan segar. Sehingga taman ini menjadi ruang terbuka hijau, yang sangat diperlukan sebagai daerah resapan air,  tempat olahraga dan lokasi rekreasi murah bagi warga Rantauprapat.
Seperti dilakukan B Hasibuan,44, yang hampir setiap hari selalu berkunjung ke taman ini bersama istrinya untuk sekedar jogging. Namun biasanya mereka melakukan jogging  setelah selesai sholat subuh hingga matahari terbit. Pasangan  yang sudah dikarunia tiga anak ini lebih memilih langsung menuju salah satu sudut taman yang mengelilingi Stadion Binaraga.
 Mereka berari-lari kecil bersama puluhan warga yang didominasi kaum lanjut usia (Lansia) yang sering memanfaatkan sekeliling Taman Stadion Binaraga sebagai tempa olahraga jogging track dipagi hari.
Taman Stadion Binaraga, demikian namanya, karena lokasinya seluas 36.000 M2 mengelelingi lapangan stadion sepak bola yang dibanggakan oleh warga Rantauprapat. Taman ini memang sedikit  berbeda geografi dengan taman lainnya.  Alasannya,  taman yang sering juga dijadikan sebagai tempat senam Taichi ini memiliki tanah yang berbukit-bukitan sehingga bagus untuk lokasi jogging track.
Maka itu, taman yang selalu dipadati pengunjung untuk melakukan beragam aktivitas, termasuk diantaranya melakukan kegiatan olahraga di pagi hari maupun  di siang hari juga, hanya sekedar  menjadi tempat bermain di ruang terbuka hijau untuk  warga berkumpul. Sayangnya dilokasi itu juga terdapat café sehingga sedikit membuat lokasi taman itu tampak kumuh.
Salah seorang siswa SLTA mengaku bernama Sari, 16, sepulang sekolah bersama teman-temannya  langsung memarkirkan kenderaan roda duanya disudut taman ini. Mereka mengaku sering menghabiskan waktu  sekedar bermain di Taman Stadion Binaraga Rantauprapat. Dan  bahkan tidak jarang mereka melakukan diskusi kecil hanya sekedar mengulangi pelajaran yang mereka  peroleh dibangku sekolah.
“Kami biasa disini main-main setelah pulang sekolah.  Lokasinya lebih santai disini dan bisa juga mengulang pelajaran sebelum pulang ke rumah,” ungkapnya.
Ternyata, taman ini tidak hanya dimanfaatkan orang dewasa, anak-anak juga tampak asyik bermain sepak bola dibagian halaman maupun sudut Stadion Binaraga. Mereka seakan tak peduli dengan pengunjung lain yang duduk dipinggir taman yang juga terlihat asyik sendiri. Ada yang asyik mengobrol dengan pasangannya, sementara yang lain ada yang jogging meski sudah pukul 13.00 WIB.  Di sore hari juga banyak terlihat warga yang berkunjung ke lokasi ini.
Keunggulan Taman Stadion Binaraga dibanding dengan taman lain seperti Taman Lapangan Ika Bina Rantauprapat maupun taman Tugu Adipura yang terdapat dipintu masuk Kota Rantauprapat cukup berbeda. Meski  terik matahari di Taman Stadion Binaraga, namun cahaya tak kuasa menembus sudut-sudut taman yang dijadikan sebagai tempat bermain dan nongkrong bagi pengunjung, karena berada dibayangan pepohonan yang rindang. Itulah kemudian yang membuat anak-anak disana tetap asyik bermain sepak bola, pelosotan bahkan kejar-kejaran satu sama lainnya.
Ketua DPRD Labuhanbatu Elliya Rosa Siregar juga mengaku hampir setiap pagi hari setelah selesai melaksanakan sholat subuh hingga  terbit matahari selalu berada di Taman Stadion  Binara. Kedatangannya  hanya untuk sekedar jogging dan ikut senam Taichi bersama ratusan pengunjung lanjut usia (Lansia) lainnya yang selalu memanfaatkan lokasi itu menjadi taman olah raga.
“Kalau dulu saya  jogging di  Lapangan Ika Bina Rantauprapat. Tapi sekarang sudah tak terikuti lagi orang-orang yang jogging di Lapangan Ika Bina Rantauprapat. Meraka yang jogging cepat larinya,” kata Elliya Rosa Siregar.
Dia mengatakan, lokasi Taman Stadion Binaraga jauh lebih baik karena lokasinya  terdapat dataran dan sedikit berbukitan. Kemudian pepohonannya juga sangat rindang membuat kenyaman tersendiri akibat segarnya udara  disana.

Pemkab Diminta Awasi Pelaku Asusila 
            Sementara itu, Ketua Laskar FPI Kabupaten Labuhanbatu Ridwan MS mengatakan, Pemkab Labuhanbatu harus dapat menjaga norma para pengunjung agar tidak  memanfaatkan Taman Stadion Binaraga sebagai tempat yang menjurus kepada  perbuatan maksiat.
"Karena banyak anak muda bawa minum-minuman. Sudah jelas saya lihat, karena nggak saya potonya waktu itu," katanya.
Selain itu kata dia, taman itu masih kerap disalahgunakan warga terutama muda-mudi  yang nekat melakukan perbuatan diluar batas kewajaran. Hal itu tidak bisa dihindari karena kurangnya pengawasan serta berubahnya zaman  dan kebudayaan Barat mulai ditiru anak muda saat ini.
Maka itu, kata Ridwan, anak muda-mudi kerap menjadikan lokasi taman itu dimalam hari sebagai lokasi pacaran yang berujung kepada perbuatan maksiat. 
“Untuk menghindari taman menjadi tempat perbuatan asusila, pemkab harus dapat menempatkan petugas keamanan yang selalu mengontrol  taman,”tegasnya.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Pemkab Labuhanbatu Sugeng mengatakan, untuk menjaga lokasi taman itu agar tidak dijadikan sebagai tempat yang menjurus kepada perbuatan mesum, maka diharapkan peran serta masyarakat sekitar untuk dapat menjaganya.
Sebab, katanya taman itu dibangun bertujuan  untuk  hutan kota dan dapat menjadi daerah resapan air,  tempat olahraga dan lokasi rekreasi  yang murah bagi warga. Sementara  terkait café  milik seorang pengusaha yang menyewa lokasi kepada pemkab puluhan tahun yang lalu,  akan segera ditutup ditahun 2014 ini karena masa sewanya akan berakhir.
“Makanya lokasi café itu juga akan dijadikan pemkab menjadi penanaman hutan kota. Itu tidak akan diperpanjang lagi  sewanya oleh Pemkab Labuhanbatu,”tuturnya mengakhiri.##

Sabtu, 17 Agustus 2013

Populasi IKan Terubuk Kian Langka Diperairan Labuhanbatu

 
Kabupaten Labuhanbatu merupakan salah satu daerah yang memiliki sumberdaya perikanan yang cukup dikenal lumayan besar sejak dahulu kala. Terutama yang berasal dari kawasan Tanjung Sarang Elang Kecamatan Panai Tengah  dan Sungai Berombang Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu.
Kedua daerah itu  mempunyai komoditi perikanan yang beraneka ragam. Salah satunya adalah ikan terubuk dengan telurnya merupakan makanan khas yang menjadi kebanggan masyarakat khususnya  di daerah pesisir pantai  Kabupaten Labuhanbatu.
Sayangnya bila melihat populasi  ikan Terubuk saat ini sudah sangat menurun, bahkan sudah jarang ditemui dipasar-pasar tradisional yang biasanya menjadi tempat penjualan ikan Terubuk dimasa  lalu.  Ikan yang yang memiliki kebiasaan hidup di muara sungai seperti dipertemuan antara Sungai Barumun  dengan air laut di Tanjung Sarang Elang dan Sungai Berombang ini cukup populer karena kelezatan telur dan dagingnya yang khas.
Faktor rasanya yang lezat itu kemudian membuat harga ikan ini meroket hingga menjadi harganya cukup mahal. Bayangkan untuk  1 Kg telur ikan terubuk  ini, kini telah mencapai harganya sekitar Rp2 jutaan lebih, sedangkan dagingnya hanya sekitar ratusan ribu per kg. Sehingga tak heran jika jenis ikan ini selalu menjadi incaran para nelayanan dan konsumen yang menjadi penikmat telur ikan Terubuk.
Akibat itu pula, membuat populasi ikan pemakan plankton (Buih) ini sudah sangat jarang ditemui di muara Sungai Barumun dan Laut Sungai Berombang.  Ekploitasi yang berlebihan (over exploitation) yang dilakukan para nelayan juga menyebabkan ikan Terubuk ini semakin sulit ditemukan  saat ini.  Apalagi yang paling diburu para nelayan dan konsumen, umumnya  adalah telur  ikan terubuk, sehingga membuat populasi ikan berwarna perak itu  mengalami penurunan yang cukup drastis. Kini malah semakin langka keberadaannya di alur sungai yang bisanya menjadi tempat habitat ikan ini.
Abdul Karim Nasution, 70,  warga Dusun Bulu Tolang, Desa Sei Siarti, Labuhanbatu dalam satu kesempatan  mengatakan, dirinya sudah puluhan tahun melakoni pekerjaannya sebagai nelayan tradisional penangkap ikan Terubuk.  
“Sudah puluhan tahun jadi penangkap ikan terubuk. Ya, sekarang jumlah ikan terubuk sudah jauh berkurang,” bebernya.
Kata Karim, beberapa dekade lalu para nelayan masih berpeluang mendapatkan ikan terubuk sekira 5-10 ekor perharinya. Tapi saat ini, kata dia untuk memperoleh satu ekor ikan Terubuk saja, satu hari  pun justru belum tentu mendapat jaminan bisa diperoleh.
“Sehari belum tentu mendapat ikan satu ekorpun,” imbuhnya kala itu.
Ikan ini juga terancam mengalami kepunahan  lantaran dugaan pencemaran limbah dari sejumlah industri pabrik kelapa sawit (PKS) yang semakin bertambah  disekitar muara Sungai di kawasan Labuhanbatu.##

Ikan Terubuk Menjadi Simbol Pemerintah Daerah (Logo)
            Kebanggan terhadap ikan Terubuk itu juga sengaja diimplementasikan pemerintah daerah pada logo Pemkab Labuhanbatu.  Sesuai infomasi yang diperoleh, pemakaian logo pemkab Pemkab Labuhanbatu  yang memiliki gambar padi, karet, Kelapa Sawit dan ikan Terubuk hingga kini masih menjadi logo atau simbol. Menurut berbagai sumber penetaapan logo Pemkab Labuhanbatu yang menyertakan gambar dua ekor ikan Terubuk diantara gambar komoditi itu  sekitar tahun 1980-an. Pemerintah daerah bersama sejumlah tokoh masyarakat sepakat menetapkan logo itu sebagai simbol dan  ciri khasnya Labuhanbatu.
Oleh sebab itulah, kemudian agar tidak menjadi kenangan dibutuhkan penanganan khusus dari masyarakat maupun pemerintah daerah untuk melestarikan ikan Terubuk. Misalnya, dengan melakukan budidaya supaya ikan ini tidak terancam mengalami kepunahan. Tujuannya adalah, agar suatu saat nanti anak cucu maupun generasi mendatang  masih tetap dapat mengenal dan dapat menikmati bagaimana  gurihnya rasa  daging dan telur ikan terubuk tersebut.  
Sebab kalau tidak ada penanganan budi daya yang lebih serius didukung pemerintah daerah, bisa jadi ikan Terubuk hanya tinggal menjadi legenda  bagi anak-cucu digenerasi mendatang  di  Kabupaten Labuhanbatu. Akhirnya, mereka  hanya dapat mendegar cerita seperti dogeng dimasa lalu tentang keberadaan ikan Terubuk yang sempat menjadi kebanggan  warga  Labuhanbatu dimasa tempo dulu. Alhasil, riwayat ikan Terubuk ini bias menjadi seperti cerita dinasourus yang kini tidak dapat ditemukan lagi kecuali  tinggal legenda dan posil dari tulang belulang binatang yang berbadan besar tersebut dapat dilihat melalui acara tayangan TV.
Begitupula halnya dengan ikan Terubuk. Tentu sayang sekali jika  Tetua nantinya hanya bias memperkenalkan ikan Terubuk itu hanya lewat  logo Pemkab Labuhanbatu  yakni, dua ekor ikan  Terubuk diantara tanaman karet dan sawit sebagai sumber pendapatan andalan saat ini.
Sungguh ironis sekali, jika hal itu yang  terjadi dimasa yang akan datang. Namun, yang jelas kalau tidak ada semacam budidaya ataupun penyelamatan untuk kelangsungan  ikan Terubuk tersebut kita khawatir generasi mendatang  bakal tidak  akan dapat lagi merasakan kelezatannya dari daging dan telur yang dihasilkan oleh ikan Terubuk tersebut. Karena sudah mulai mengalami kepunahan saat ini. Padahal dahulunya ikan ini termasuk salah satu jenis ikan ekonomis penting yang menjadi primadonanya  dibeberapa muara sungai di Kabupaten Labuhanbatu. Hal itu akibat mudahnya diperoleh para nelayan.
Salah seorang warga Kabupaten Labuhanbatu, Zulham Abdul Fattah  Nasution, 54 sempat menyampaikan kekhawatirannya kepada penulis terhadap eksistentsi ikan Terubuk yang kini sudah sangat jarang ditemui disejumlah perairan pesisir pantai Labuhanbatu. Katanya,  tahun 1980-an, dirinya masih sempat merasakan betapa nikmatnya telur dan daging ikan itu.
“Tapi kalau sekarang ini, saya sendiri  tidak pernah lagi melihatnya. Kita khawatir ikan Terubuk itu akan menjadi kenangan kalau tidak ada perhatian pemerintah untuk membudidayakannya,”ungkapnya dalam satu kesempatan.
Dia mengatakan, pada anggaran APBD Pemkab Labuhanbatu tahun 2012 pernah  dialokasikan  anggaran sebesar Rp60 juta di dinas peternakan dan perikanan  khusus untuk budidaya ikan Terubuk. Namun hingga sekarang tidak jelas bagaimana penggunaan anggaran budi daya ikan Terubuk tersebut. Sebab, tidak ada informasi terkait perkembangan habitat ikan Terubuk di Labuhanbatu sampai sekarang.
“Itu pernah saya tanya, bagimana mengelola anggaran budi daya ikan Terubuk itu, tapi tak jelas keterangan dari dinas perikanan,. Kata mereka mau kerjasama dengan universitas jurusan perikanan,”bebernya.
Salah seorang  anggota DPRD  Labuhanbatu, Muhammad Riadi dalam satu kesempatan mengatakan kekhawatirannya tentang populasi ikan Terubuk yang semakin terancam saat ini diperairan Labuhanbatu. Maka itu dia mendesak pemerintah daerah agar turut campur dalam penanganan peningkatan populasi ikan Terubuk agar tidak hanya tinggal menjadi cerita dimasa mendatang kepada generasi berikutnya.
“Kalau pemerintah daerah tidak menaruh perhatian terhadap peningkatan populasi ikan Terubuk, tidak tertutup kemungkinan nama ikan  itu akan tinggal kenangan saja,”ungkapnya.
Selain itu, Alumni IPB ini menambahkan, seharusnya pemerintah melakukan budi daya dan melakukan konservasi ikan terubuk. Baik itu dengan cara mengundang pihak ketiga untuk dapat melakukan kajian  terhadap tata cara  budi daya ikan Terubuk. Ditambah lagi dengan salah satu gambar yang terdapat dalam logo Pemkab Labuhanbatu adalah ikan Terubuk, sehingga sangat perlu   dilestarikan. 
“Makanya tidak ada pilihan lain, pemerintah harus  turut mendorong budi daya ikan Terubuk supaya populasinya semakin bertambah. Sebab, kalau pemerintah memang mau, saya kira tidak sulit untuk membudidayakan ikan ini,” tandasnya.
  Optimisme Riadi tersebut cukup beralasan bagimana untuk meningkatkan populasi ikan tersebut. Karena  di Labuhanbatu sendiri kini sudah banyak sarjana yang memiliki latar belakang ilmu pengetahuan   perikanan, sehingga tidak perlu diragukan lagi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki mereka. Hanya saja pemerintah harus dapat mengalokasikan anggaran agar bias melakukan pengembangbiakan ikan Terubuk tersebut untuk mengantisifasi kepunahan dimasa yang akan datang.
Humas Pemkab Labuhanbatu Sugeng ketika dikonfirmasi mengatakan, terkait dengan budidaya ikan Terubuk tersebut sudah ada rencana Dinas Perikanan setempat untuk melakukan semacam kajian dengan pihan Universitas Riau (UNRI). Rencana tersebut sudah diagendakan akan dilaksanakan pada akhir tahun 2013 ini.
“Sebenarnya saya tidak tahu banyak soal agenda budi dayaikan Terubuk ini. Tetapi pernah saya dengar informasi bahwa ditahun 2013 ini akan dilakukan kajian terkait rencana bagamana budi daya ikan Terubuk,"tandasanya. (sartana nasution)

Teks Photo: Telur ikan Terubuk yang sering dimintai warga

Minggu, 14 Juli 2013

Mesjid Raya Rantauprapat Tak Terlepas Dari Rangkaian Sejarah Kerajaan dan Penjajahan Belanda


Mesjid Raya Rantauprapat Tak Terlepas Dari Rangkaian Sejarah Kerajaan dan Penjajahan Belanda

Sejarah Mesjid Raya (Agung) Jalan Ahmad Yani Rantauprapat, tidak terlepas dari rangkaian perkembangan dari sejarah kerajaan di kawasan Labuhanbatu pada masa penjajahan Belanda. Meskipun bentuk dan gaya ornamennya tidak begitu tampak kuno, namun kalau menurut sejarahnya, pertapakan mesjid itu merupakan tanah wakap dari Kerajaan Bilah pada masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1930-an di Rantauprapat.
Pada masa itu, Kerajaan Bilah diberi kewenangan oleh kaum penjajah Belanda untuk melakukan pemungutan pajak (Balasting) kepada masyarakat diwilayah itu. Hal ini berkaitan dengan sikaf licik Belanda agar mereka tetap bisa membina hubungan yang harmonis dengan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar Labuhanbatu Raya.
Sejalan dengan itu, pemangku Kerajaan Bilah yang cukup tersohor pada masanya, berhasil melakukan pemungutan pajak. Ia pun kemudian memiliki inisiatif untuk mendirikan sebuah mesjid sekitar tahun 1930-an sebagai tempat beribadah bagi kaum muslimin  di Kota Rantauprapat.
Konon dari sisa lebih pungutan  pajak di Labuhanbatu, pihak kerajaan menggunakannya modal awal untuk membangun empat buah mesjid sekaligus yakni, Mesjid Raya Rantauprapat,  Mesjid Kulauh Hulu, Mesjid Kota Pinang serta sebuah Mesjid Raya di daearah Pesisir Pantai, Kecamatan Labuhan Bilik.  
Keemepat mesjid ini pun memiliki ciri khas yang hampir mirip, baik ornamennya maupun bentuk kubahnya yang tidak jauh berbeda. Meski perkembangan pembangunan begitu pesatnya zaman sekarang,  Mesjid Raya Rantauprapat  masih tetap mempertahankan keaslian bangunannya, seperti yang terlihat pada kubah utamanya yang masih terbuat dari kayu yang kokoh, sekaligus menjadi langit-langitnya.
Mesjid yang berada dipinggir jalan raya itu  sudah berusia sekitar 80-an tahun lamanya, namun kondisinya masih tetap menonjolkan  bagunan tua yang menghiasai mesjid tersebut . Hanya saja ukurannya sedikit di perbesar dari ukuran aslinya.
Selain itu, hiasan-hiasan kecil pada temboknya masih jelas terlihat sekaligus mengingatkan kita kepada rumah-rumah kerajaan melayu yang biasa ditemui di kawasan Sumatera Utara. Artinya, raja yang membangun mesjid tersebut tidak melepaskan ciri khas Melayu yang cukup tersohor pada zaman itu.
Sayangnya, untuk mengetahui  siapa nama Raja Kerajaan Bilah pada masa pembangunan mesjid itu belum dapat diketahui secara pasti.   Misalnya saja,  Departemen Agama di Labuhanbatu sebagai pengelola mesjid tidak memiliki data apapun tentang mesjid yang dianggap memeiliki sejarah  ini.
“Kita tidak pernah dilaporkan pihak mesjid tentang pendidriannya. Data tentang mesjid itupun tidak kita miliki kecuali dari cerita orang tua,” ujar salah seorang pegawai Depag  ketika wartawan melakukan pencarian data mesjid tersebut. 
Sementara itu, bentuk kubah mesjid ini  terdiri dari tiga buah. Satu terdapat sebagai menara utama yang paling tinggi yang posisinya berada dibagian belakang. Sedangkan dua lagi pada pintu menuju masuk kedalam mesjid. Selanjutnya, pada pintu pagar juga terdapat dua menara layaknya seperti mesjid Raya Al-Maksum Jalan SM Raja Medan. Simbol suku melayu masih melekat dengan dominasi warna kuning pada mesjid, meski telah terdapat warna hijau pada bagian kubahnya. 
Menurut salah seorang penasehat kenaziran mesjid, Almarhum Abdul Madjid Dalimunthe dalam satu kesempatan  mengatakan, sejak kemerdekaan Republik Indonesai, Mesjid tersebut masuk dalam pengawasan Departemen Agama, hingga kemudian nama Mesjid Raya dirubah menjadi Mesjid Agung Rantauprapat. Dalam perkebangannya, mesjid tersebut pernah  memiliki Klinik Kesehatan dan  juga Sekolah Madrasah yang berada didalam lingkungan mesjid.
“Sejak zaman Belanda nama Mesjid Raya sekitar tahun 1986 di rumah menjadi Mesjid Agung Rantauprapat,” ujar lelaki yang pernah menjadi nazir mesjid di tahun 1984 hingga 1989 ketika ditemuai dirumahnya   yang tidak jauh dari lokasi Mesjid tersebut.
Selanjutnya dikatakan Abdul Madjid, klinik yang terdapat di lokasi mesjid tersebut, dikelola oleh dua dokter, yaitu dokter umum dan satu orang dokter gigi.  Dari pendapatan yang diperoleh kedua dokter itu setiap satu pasien  akan meberikan sumbangan untuk mesjid sebesar Rp1000. Namun seiring dengan pelayanan Rumah Sakit Daerah (RSUD) Rantauprapat yang memberikan pelayanan Jamkesmas dan Jamkesda klinik dilingkungan mesjid akhirnya ditutup.
Sementara itu, selama bulan puasa, rutinitas kegiatan ibadah dilasakanakan sebagaimana bisanya dengan mesjid lainnya. Pengajian (tadaruz) setiap malam berkumandang di Mesjid Raya ini begitu juga dengan kegiatan ibadah sholat Taraweh, maupun sholat lima waktu, selalu tampak ramai disana. Begitu juga siang hari, setelah sholat Zhuhur banyak warga yang istrahat sambil menunggu datangnya waktu sholat Ashar.
Betapa banyak keutamaan bulan puasa ini membuat Mesjid Raya Rantauprapat selalu ramai di kunjungi jemaah. Halaman mesjid yang luas menjadikan kenyaman tersendiri bagi orang yang  melintas di Jalan Lintas Sumatera untuk istrahat sekaligus melaksankan sholat di Mesjid itu. Sebab halamannya juga cukup luas membuat pemilik kenderaan merasa nyaman  karena  tidak sulit untuk memarkirkan kenderaan mereka.
Bahkan bagi sebahagian warga yang melakukan perjalanan jauh misalnya dari Medan menuju Sidempuan atau Jakarta, Mesjid  Raya Rantauprapat menjadi tempat pilihan untuk lokasi istrahat dan sekaligus dapat melaksanakan ibadah sholat.
Salah seorang warga Akhyar, 28 mengatakan,  dirinya lebih menyukai sholat di Mesjid Raya Rantauprapat, karena lokasinya berada persisi di jalan Lintas Sumatera. Selain itu kondisi airnya  sangat baik karena jarang terjadi macet dan tidak seperti air di Mesjid yang dikelola oleh pemerintah daerah di kawasan Ujung Bandar. (sartana nasution)



Teks Photo: Mesjid Raya Rantauprapat tampak ornamennya masih terjaga seperti pada zaman kerajaan di masa lalu. Bangunan Mesjid itu awalnya didanai dari sebahagian sisa kutipan pajak di zaman penjajahan Belanda.